Prospek budidaya kedelai berdasarkan kebutuhan air tanaman dan zona agroklimat di Provinsi Jambi
DOI:
https://doi.org/10.31028/ji.v15.i2.85-94Kata Kunci:
Cropwat, klasifikasi Oldeman, neraca air, evapotranspirasi, kebutuhan air tanaman, ketersediaan airAbstrak
Kedelai (Glicine max) berpotensi untuk dikembangkan karena tidak hanya dapat diolah menjadi bahan pangan tetapi juga menjadi pakan ternak. Selain pemanfaatan teknologi, peningkatan produksi tanaman kedelai dapat dilakukan dengan memperhatikan ketersediaan air dan faktor cuaca terutama untuk meningkatkan intensitas tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan air tanaman berdasarkan zona agroklimat. Analisis deskriptif kuantitatif dan pengolahan data dilakukan dengan model Cropwat. Model ini dibuat oleh FAO untuk menentukan perhitungan evapotranspirasi dan perhitungan kebutuhan air tanaman di seluruh dunia secara otomatis. Cropwat merupakan salah satu model perangkat lunak yang mudah untuk dioperasikan dan dapat meminimalisir kesalahan manusia. Klasifikasi iklim diidentifikasi berdasarkan data curah hujan di Provinsi Jambi yaitu di Kabupaten Muaro Jambi di Stasiun Sultan Thaha, Palmerah Jambi, dan Depati Parbu. Zona agroklimat untuk setiap wilayah tersebut berturut-turut adalah D1, D2, dan E2. Berdasarkan curah hujan, ketiga kabupaten tersebut layak untuk budidaya kedelai karna memiliki curah hujan rata-rata 127,11 mm - 192,51 mm per bulan. Banyaknya kebutuhan air tanaman juga menjadi faktor esensial dalam pembudidayaan tanaman agar air dapat tertata sesuai dengan kebutuhan tanaman dan dapat memberikan produksi yang optimal. Berdasarkan neraca air, surplus di Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi terjadi pada bulan Januari, Februari, Maret, April, September, Oktober dan Desember. Kabupaten Tanjung Jabung Timur mengalami surplus pada bulan Januari, Februari, Maret dan April. Kabupaten Tanjung Jabung Barat surplus terjadi pada bulan Januari, Februari, Maret, Oktober, November dan Desember. Hasil perhitungan ini menunjukkan bahwa Provinsi Jambi berpotensi untuk dibudidayakan tanaman kedelai karena memiliki ketersediaan air yang cukup.
Unduhan
Referensi
Dinas Pertanian Tanaman Pangan. (2015). Laporan Tahunan. Jambi, Indonesia: Dinas Pertanian Tanaman Pangan.
Direktorat Irigasi dan Rawa. (2013). Standar Perencanaan Irigasi-Kriteria Perencanaan Bagian Perencanaan (KP-01). Jakarta: Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum.
Fadholi, A., & Supriatin, D. (2012). Sistem pola tanam di wilayah Priangan berdasakan klasifikasi iklim Oldeman. Jurnal Geografi Gea, 12(2), 61-70.
Hansen, V. E., Israelsen, O. W., & Stringham, G. E. (1979). Irrigation Principles and Practices (4th ed). New York, USA: John Wiley and Sons.
Irmak, S., Specht, J. E., Odhiambo, L. O., Rees, J. M., & Cassman, K. G. (2014). Soybean yield, evapotranspiration, water productivity, and soil water extraction response to subsurface drip irrigation and fertigation. Transactions of the ASABE, 57(3), 729-748.
Manik, T. K., Rosadi, R. B., & Karyanto, A. (2012). Evaluasi metode Penman-Monteith dalam menduga laju evapotranspirasi standar (ETo) di dataran rendah propinsi Lampung, Indonesia. Jurnal Keteknikan Pertanian, 26(2), 121-128. https://doi.org/10.19028/jtep.26.2.121-128
Munir, A. (2012). Peningkatan produktivitas dan efisiensi air dalam pertanian madura. Jurnal Agroekoteknologi, 5(2), 125-131.
Musa, N. (2012). Penentuan masa tanam jagung (Zea mays L.) berdasarkan curah hujan dan analisis neraca air di Kabupaten Pohuwato. Jurnal Agroteknotropika, 1(1), 23-27.
Oldeman, L. R., & Syarifuddin. (1977). An Agroclimates Map of Sulawesi. Bogor, Indonesia: IPB Press.
Purba, J. H. (2011). Kebutuhan dan cara pemberian air irigasi untuk tanaman padi sawah (Oryza sativa L.). Widyatech: Jurnal Sains Dan Teknologi, 10(3), 145-155.
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi. (2017). Modul Hidrologi, Kebutuhan, dan Ketersediaan Air (Modul No. 5). Bandung, Indonesia: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi.
Rizal, F., Alfiansyah, & Rizalihadi, M. (2014). Analisa perbandingan kebutuhan air irigasi tanaman padi metode konvensional dengan metode “System of Rice Intensification†(SRI) organik. Jurnal Teknik Sipil Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, 3(4), 67-76.
Surendran, U., Sushanth, C. M., Mammen, G., & Joseph, E. J. (2015). Modelling the crop water requirement using FAO-CROPWAT and assessment of water resources for sustainable water resource management: A case study in Palakkad District of humid tropical Kerala, India. Aquatic Procedia, 4, 1211-1219. https://doi.org/10.1016/j.aqpro.2015.02.154
Susanawati, L. D., & Suharto, B. (2018). Kebutuhan air tanaman untuk penjadwalan irigasi pada tanaman jeruk Keprok 55 di Desa Selorejo menggunakan Cropwat 8.0. Jurnal Irigasi, 12(2), 109-118. https://doi.org/10.31028/ji.v12.i2.109-118
Tjasyono, B. (2004). Klimatologi. Bandung, Indonesia: Institut Teknologi Bandung.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Naskah dilisensikan berdasarkan Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.