Peningkatan intensitas tanam padi melalui pemanfaatan debit surplus sungai, penerapan sumur renteng, dan sistem giliran

Penulis

  • Ahmad Efendi Program Magister Teknik Pengairan, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
  • Donny Harisuseno Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
  • Tri Budi Prayogo Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

DOI:

https://doi.org/10.31028/ji.v14.i1.1-16

Kata Kunci:

debit surplus sungai, neraca air, sumur renteng, sistem giliran, intensitas tanam

Abstrak

Daerah Irigasi (DI) Sumber Pakem mempunyai luas daerah layanan irigasi 1.151 ha terletak di Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso Provinsi Jawa Timur. Sistem pemberian air eksisting di daerah studi belum dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga terjadi permasalahan pembagian air saat musim kemarau serta terjadinya fluktuasi ketersediaan air antara musim hujan dan musim kemarau di Sungai Banyubang. Kelebihan debit pada musim hujan dapat disimpan dan digunakan untuk menambah pasokan irigasi di saat musim kemarau. Untuk itu tujuan dari studi ini adalah untuk mengusulkan pola operasi irigasi alternatif melalui optimalisasi pemanfaatan debit surplus Sungai Banyubang, penerapan sumur renteng, dan penerapan giliran secara intensif. Dalam studi ini, usulan pola operasi tersebut direncanakan dan dievaluasi dampaknya terhadap peningkatan intensitas tanam. Dari hasil studi, optimalisasi pemanfaatan debit surplus sungai pada daerah studi dapat meningkatkan intensitas tanam padi saat Musim Tanam 1 sebesar 2,03% dan Musim Tanam 2 sebesar 27,28%. Debit surplus sungai juga dimanfaatkan untuk mengisi sumur renteng sebanyak 6.599 sumur (103 jaringan) dengan penambahan debit intake sebesar 6,00 l/s selama 135,33 hari. Pengisian sumur renteng dilakukan saat debit sungai berlebih dan sistem pemberian air irigasi dilakukan secara terus-menerus sehingga tidak mengganggu pola pemberian air irigasi pada daerah studi. Air tersimpan di sumur renteng dapat digunakan saat Musim Tanam 3 untuk memenuhi kebutuhan air tanaman tembakau seluas 467 ha. Dengan demikian, luas tanam padi pada periode tersebut dapat meningkat menjadi 684 ha. Penerapan sumur renteng dan sistem giliran secara intensif pada Musim Tanam 3 dapat meningkatkan intensitas tanam padi sebesar 38,02%.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Angguniko, B. Y., & Hidayah, S. (2017). Rancangan unit pengelola irigasi modern di Indonesia. Jurnal Irigasi, 12(1), 23-36.

Asdak, C. (2004). Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta, Indonesia: Gadjah Mada University Press.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. (2006). Sistem Irigasi Sumur Renteng. Yogyakarta, Indonesia: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.

Direktorat Irigasi dan Rawa. (2013). Standar Perencanaan Irigasi-Kriteria Perencanaan Bagian Perencanaan (KP-01). Jakarta: Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum.

Gohar, A. A., Amer, S. A., & Ward, F. A. (2015). Irrigation infrastructure and water appropriation rules for food security. Journal of Hydrology, 520, 85-100. https://doi.org/10.1016/j.jhydrol.2014. 11.036

Hatmoko, W., Radhika, Firmansyah, R., & Fathoni, A. (2018). Ketahanan air irigasi pada wilayah sungai di Indonesia. Jurnal Irigasi, 12(2), 65-76.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2015). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 14 /Prt/M/2015 Tentang Kriteria dan Penetapan Status Daerah Irigasi. Jakarta, Indonesia.

Kementerian Pertanian. (2015). Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 326/KPTS/KB.020/2015 Tentang Pedoman Produksi, Sertifikasi, Peredaran dan Pengawasan Benih Tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum L.). Jakarta, Indonesia: Kementerian Pertanian.

Kunaifi, A. A., Limantara, L. M., & Priyantoro, D. (2011). Pola penyediaan air DI Tibunangka dengan sumur renteng pada sistem suplesi renggung. Jurnal Teknik Pengairan, 2(1). Diperoleh dari https://jurnalpengairan.ub.ac.id/index.php/jtp/article/view/126

Kurniati, E. (2001). Analisis finansial penerapan metode pemberian air irigasi dengan microsprayer pada Tanaman Tembakau Sawah (Nicotiana Tabacum) di Madura. Jurnal Teknologi Pertanian, 2(2), 1-13.

Martani, Y. (1997). Pengelolaan Irigasi. Surabaya: Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Daerah Tingkat I Jawa Timur.

Muiz, I. D., Harisuseno, D., & Asmaranto, R. (2017). Evaluasi sistem pemberian air Daerah Irigasi Kedung Putri guna meningkatkan intensitas tanam padi. Jurnal Teknik Pengairan, 8(2), 194-204.

Perwitasari, S. D. N., & Bafdal, N. (2016). Penjadwalan irigasi berbasis neraca air pada sistem pemanenan air limpasan permukaan untuk pertanian lahan kering. Jurnal Keteknikan Pertanian, 4(2). Diperoleh dari https://journal.ipb.ac.id/index.php/jtep/article/view/15910

Puteriana, S. A., Harisuseno, D., & Prayogo, T. B. (2016). Kajian sistem pemberian air irigasi metode konvensional dan metode SRI (System of Rice Intensification) pada Daerah Irigasi Pakis Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Jurnal Teknik Pengairan, 7(2), 236-247.

Rahadi, B., Suharto, B., Rachman, A., & Machfudz. (1996). Pengendalian Resiko Kegagalan Panen Tembakau Karena Pengaruh Cuaca Mempergunakan Irigasi Curah. Malang: Universitas Brawijaya.

Subari, & Muqorrobin, M. (2013). Pemberian air sistem gilir berselang pada Saluran Sekunder Kandanghaur, Seksi Patrol, Perum Jasa Tirta II. Jurnal Irigasi, 8(2), 138-146.

Suwarno, S. (2010). Meningkatkan produksi padi menuju ketahanan pangan yang lestari. Jurnal Pangan, 19(3), 233-243. https://doi.org/10.33964/jp.v19i3.150

Triatmodjo, B. (2010). Hidrologi Terapan (Cetakan Kedua). Yogyakarta, Indonesia: Beta Offset.

Unduhan

Diterbitkan

2019-12-30

Cara Mengutip

Efendi, A., Harisuseno, D., & Prayogo, T. B. (2019). Peningkatan intensitas tanam padi melalui pemanfaatan debit surplus sungai, penerapan sumur renteng, dan sistem giliran. Jurnal Irigasi, 14(1), 1–16. https://doi.org/10.31028/ji.v14.i1.1-16

Terbitan

Bagian

Artikel
Loading...